Sabtu, 25 Oktober 2014

ASKEP Klien dengan CA Paru

ANATOMI PARU:
DEFINISI
          Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).
          Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, Patologi, 2000).
ETIOLOGI
·         Merokok
·         Diet
·         Polusi udara
·         Kanker paru akibat kerja
·         Iradiasi
·         Genetic
TEORI ONKOGENESIS:
          Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen).
          Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya
          Tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah- programmed cell death).
          Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom.
          Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya
PROSES PEMBELAHAN SEL:
Description: gambar:proses 
mitosis.jpg
MANIFESTASI KLINIS:
  1. Gejala awal.
    Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkus.
  2. Gejala umum.
    a. Batuk
    Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.
    b. Hemoptisis
    Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi.
    c. Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.
STAGING KANKER PARU:
Occult
Tx
No
Mo
Baru 1997
TNM
Stage 0
Tis
Carsinoma
Insitu
Stage I
T 1 -2
N0
M0
Stage IA
TIN0M0
Stage II
T 1 -2
N1
M0
Stage IB
T2N0M0
Stage IIIA
T3
N0-1
M0
Stage IIA
TIN1M0
T 1 -3
N2
M0
Stage IIB
T2N1M0
Stage IIIB
T4
N0-3
M0
Stage IIIA
T1-3N2M0
T3N1M0
T 1 -3
N3
M0
Stage IIIB
T4 Any NM0
Any TN3M0
Stage IV
T1-4
N1-3
M1
Stage IV
Any T Any NM1
Keterangan:
Tx         :  1. Tumor terbukti ganas didapat dari secret              bronkopulmoner, tapi tidak terlihat                     secara bronkoskopis dan radiologis.
                           2. Tumor tidak bias dinilai pada staging                  retreatment
Tis        : Carsinoma in situ (pre invasive carcinoma)
T1         : Tumor, diameter < 3 cm
T2         : Tumor, diameter 3 cm atau terdapat                    atelektasis pada distal hilus
T3         : Tumor ukuran apapun meluas ke pleura,             dinding dada, diafragma, perikardium,  < 2        cm dari karina, terdapat atelektasis total.
T4         : Tumor ukuran apapun invasi ke                                      mediastinum atau terdapat efusi                                      pleuramaligna.
N0         : Tidak ada kelenjar getah bening (KGB)   yang terlibat
N1         : Metatasis KGB bronkopulmoner atau                    ipsilateral hilus
N2         : Metatasis KGB mediastinal atas sub carina
N3         : Metatasis KGB mediastinal kontra lateral             atau hilus atau KGB skalenus atau                       supraklavikular
M0        : Tidak ada metatasis jinak
M1        : Metatasis jinak pada organ (otak, hati, dll)
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK:
1.  Radiologi.
  1. Foto thorax posterior – anterior (PA)
  2. Bronkhografi.
2. Laboratorium:
  1. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
  2. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
  3. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
3. Histopatologi.
  1. Bronkoskopi.
  2. Biopsi Trans Torakal (TTB).
  3. Torakoskopi.
  4. Mediastinosopi.
  5. Torakotomi.  
4. Pencitraan.
  1. CT- Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
  2. MRI.
CONTOH GAMBAR:
 Description: Foto Kanker Paru-ParuDescription: TTB6a
Text Box: Bronchioloalveolar carcinoma pada pria 39 tahun dengan sputum darah dan nyeri dada pleuritik. (a) Foto Thorax PA yang menggambarkan konsolidasi dan kavitas pada paru kiri atas segmen lingular. (b) CT-Scan Thorax (window paru) menunjukkan gambaran kavitas dengan konsolidasi pada parenkim paru.
          Kuratif: Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien
          Paliatif: Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
          Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal: Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga 
          Suportif: Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal seperti pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi.
  1. Pembedahan:
          Toraktomi eksplorasi: Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
          Pneumonektomi pengangkatan paru
          Lobektomi (pengangkatan lobus paru)
          Resesi segmental:Merupakan pengankatan satu atau lebih segmen paru.
          Resesi baji: Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan es).  
          Dekortikasi :Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris).
          2. Radiasi:
                      Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.
          3. Kemoterafi:
                      Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.
ASKEP
          PENGKAJIAN.
          Aktivitas/ istirahat
          Sirkulasi.
          Integritas ego.
          Eliminasi.
          Makanan/ cairan. 
          Nyeri/ kenyamanan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Kerusakan pertukaran gas
  2. Bersihan jalan nafas tidak efektif.
  3. Ketakutan/Anxietas
  4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
INTERVENSI
1. Kerusakan pertukaran gas
          Kaji status pernafasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi atau upaya pernafasan atau perubahan pola nafas.
          Catat ada atau tidak adanya bunyi tambahan dan adanya bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.
          Kaji adanya sianosis
          Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi
          Awasi atau gambarkan seri GDA.
2.   Bersihan jalan nafas tidak efektif.
          Catat perubahan upaya dan pola bernafas.
          Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.
          Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi dan karakteristik sputum.
          Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas sesuai kebutuhan.
          Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, albuterol dll. Awasi untuk efek samping merugikan dari obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.
3.Ketakutan/Anxietas.
          Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.
          Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.
          Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.
          Identifikasi perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
          Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.
4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
          Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang jelas/ ringkas.
          Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat
          Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.
          Berikan pedoman untuk aktivitas.

Mini Leacture
Ns. SEVEN ,S,Kep


Tidak ada komentar:

Posting Komentar